JENDELABABEL.COM, BELITUNG — Persoalan distribusi solar subsidi di Kecamatan Selat Nasik kembali mencuat. Di tengah rutin masuknya pasokan BBM bersubsidi ke SPBUN 26.33430 Selat Nasik, ratusan nelayan tradisional di Pulau Gersik justru mengaku kesulitan mendapatkan jatah solar untuk melaut.
Kondisi ini memicu dugaan bahwa distribusi BBM subsidi untuk nelayan tidak berjalan tepat sasaran. Para nelayan menilai ada kebocoran dalam penyaluran sehingga bahan bakar yang seharusnya digunakan untuk aktivitas melaut malah diduga beredar melalui jalur pengecer dengan harga jauh lebih mahal.
“Nelayan kecil banyak yang tidak kebagian. Mau melaut jadi susah karena terpaksa beli dari pengecer sampai Rp195 ribu per jeriken,” ungkap seorang nelayan setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan, Senin (18/5/2026).
BACA JUGA.
Menurut informasi yang dihimpun, distribusi BBM ke Selat Nasik dilakukan tiga kali dalam sebulan melalui jalur laut. Dalam sekali pengiriman, kuota yang dibawa mencapai sekitar 37 ton solar dan 5 ton Pertalite dengan total kuota perbulan mencapai ratusan ton solar subsidi, Namun besarnya pasokan itu dinilai belum berbanding lurus dengan kebutuhan nelayan di lapangan.
Di Pulau Gersik sendiri, terdapat sekitar 315 nelayan tradisional yang menggantungkan hidup dari aktivitas penangkapan ikan. Kepala Desa Pulau Gersik, Mahram, membenarkan bahwa persoalan distribusi BBM masih menjadi keluhan masyarakat.
“Memang ada nelayan yang dapat, ada juga yang tidak dapat,” kata Mahram.
Keluhan tersebut semakin menguat setelah muncul dugaan adanya praktik pelangsiran atau pembelian dalam jumlah besar oleh oknum tertentu. Akibatnya, sebagian nelayan kecil terpaksa membeli kembali solar subsidi di tingkat pengecer dengan harga tinggi.
Sementara itu, pengurus SPBUN Selat Nasik, Eki, menyatakan pihaknya telah menyalurkan BBM berdasarkan dokumen Pas Kecil milik nelayan dari empat desa di Kecamatan Selat Nasik, yakni Desa Gersik, Petaling, Gual, dan Selat Nasik.
Menurut Eki, kendala distribusi ke Pulau Gersik lebih dipengaruhi kondisi geografis dan pasang surut air laut.
“Kalau air surut, biasanya nelayan memakai jasa angkut roda tiga untuk mengambil minyak ke SPBUN,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa alokasi untuk kebutuhan nelayan Pulau Gersik berada di kisaran belasan ton setiap distribusi.
Di sisi lain, pengawas pengangkutan BBM, Ibnu, menegaskan armada kapal dan mobil tangki hanya bertugas mengantar minyak dari Pelabuhan Tanjung Ru menuju Selat Nasik.
“Setelah bongkar muatan selesai, kapal dan mobil tangki langsung kembali,” katanya.
Persoalan ini kini menjadi sorotan karena menyangkut hak nelayan kecil terhadap akses BBM subsidi yang seharusnya diprioritaskan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Hingga kini, awak media masih berupaya mengkonfirmasi pihak PT pertamina terkait dugaan kebocoran distribusi BBM jenis solar tersebut.
Masyarakat berharap ada evaluasi dan pengawasan ketat agar solar subsidi benar-benar sampai kepada nelayan yang berhak. (Jendela Group)
jb
jb
jb
jb
jb











