BBELITUNG JENDELABABEL.COM, — Pemberlakuan sistem pengisian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite berdasarkan ganjil (Roda dua) – genap (Roda empat) di sejumlah SPBU di Kabupaten Belitung mulai menuai keluhan masyarakat.
Kebijakan yang diterapkan di tengah kondisi pasokan BBM yang belum sepenuhnya stabil dinilai warga justru menambah panjang antrean dan waktu tunggu di SPBU.
Pantauan awak media di sejumlah SPBU menunjukkan antrean kendaraan mengular. Pengendara harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan Pertalite, sementara kekhawatiran tidak kebagian BBM semakin dirasakan masyarakat.
ARTIKEL TERKAIT
Sejumlah warga yang ditemui di lokasi mengaku kelelahan karena harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya setelah tidak mendapatkan Pertalite.
“Kami capek kalau begini terus. Kami antre lama-lama belum tentu kebagian. Tadi kami tiga jam antre di pom Jalan Baru, malah tidak kebagian Pertalite karena sudah habis. Akhirnya kami antre di sini lagi,” ujar salah seorang warga.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan apakah penerapan sistem ganjil-genap sudah menjadi solusi yang tepat ketika persoalan utama yang dirasakan masyarakat justru berkaitan dengan ketersediaan dan kelancaran pasokan.
BACA JUGA.
Pasokan Perlu Dinormalkan, Bukan Sekadar Membatasi Antrean
Di tengah keresahan masyarakat, pemerintah dan pihak terkait dinilai perlu mengevaluasi penerapan sistem ganjil-genap tersebut.
Pembatasan berdasarkan nomor kendaraan berpotensi membuat masyarakat harus menunggu lebih lama apabila pasokan di SPBU tidak mencukupi kebutuhan harian. Karena itu, normalisasi pasokan menjadi salah satu hal yang mendesak untuk dilakukan agar antrean tidak terus berulang.
Kuota dan distribusi Pertalite di setiap SPBU diharapkan segera dinormalkan serta disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Selain itu, jam operasional pelayanan SPBU juga dinilai perlu diperpanjang, misalnya hingga pukul 21.00 WIB, sehingga distribusi pengisian kendaraan dapat lebih tersebar dan tidak menumpuk pada jam-jam tertentu.
Langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mengurai antrean sembari pemerintah melakukan evaluasi terhadap efektivitas sistem ganjil-genap.
Pertamax Ikut Dikeluhkan Langka
Persoalan tidak hanya terjadi pada Pertalite. Sejumlah informasi yang dihimpun di lapangan juga menyebutkan ketersediaan Pertamax di beberapa SPBU mengalami kekosongan.
BACA LAGI.
Kondisi ini menambah dinamika persoalan BBM di Belitung. Jika BBM bersubsidi mengalami antrean panjang sementara BBM nonsubsidi juga tidak selalu tersedia, masyarakat memiliki semakin sedikit pilihan untuk mendapatkan bahan bakar.
Karena itu, stabilisasi pasokan Pertamax juga perlu menjadi perhatian. Ketersediaan BBM nonsubsidi yang normal dapat menjadi alternatif bagi masyarakat sekaligus membantu mengurangi tekanan terhadap antrean Pertalite.
Pemerintah Diminta Segera Ambil Langkah
Masyarakat berharap persoalan BBM tidak hanya diselesaikan melalui pembatasan akses berdasarkan pelat nomor kendaraan, tetapi juga melalui pembenahan dari sisi pasokan dan distribusi.
JANGAN LEWATKAN.
Normalisasi kuota, penyesuaian pasokan dengan kebutuhan masing-masing SPBU, stabilisasi Pertamax serta penambahan jam pelayanan hingga pukul 21.00 WIB menjadi sejumlah masukan yang dapat dipertimbangkan untuk mengurai antrean.
Sebab, ketika masyarakat sudah menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU namun tetap berisiko tidak mendapatkan BBM, persoalan tersebut tidak lagi semata-mata menyangkut panjangnya antrean, melainkan menyangkut kepastian masyarakat dalam memperoleh bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah daerah bersama Pertamina dan pihak terkait diharapkan segera mengevaluasi kondisi tersebut agar pelayanan BBM di Belitung kembali berjalan normal dan masyarakat tidak terus dibebani antrean panjang.
Penulis: [GL]
Editor: [Jendela Group]
jb

jb
jb











