Scroll untuk baca artikel
jb jb
jb jb jb
PANGKALPINANGPEMKOT KOTA PANGKALPINANG

Cece Dessy Perempuan Pemimpin, Bukan Sekadar Pelengkap Dalam Demokrasi

108
×

Cece Dessy Perempuan Pemimpin, Bukan Sekadar Pelengkap Dalam Demokrasi

Sebarkan artikel ini

JENDELABABEL.COM, PANGKALPINANG – Di tengah wajah politik yang kerap identik dengan kekuasaan dan pencitraan, hadir sosok perempuan yang memilih berjalan lebih dekat dengan masyarakat. Sosok itu adalah Dessy Ayutrisna atau yang akrab disapa Cece Dessy.. Selasa, (12/5/2026)

Perjalanan politiknya bukan lahir dari ambisi besar untuk berkuasa, melainkan tumbuh dari kedekatan dengan masyarakat dan lingkungan politik yang telah lama menjadi bagian dari kehidupannya.

Sebelum menjabat sebagai Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy dikenal sebagai anggota DPRD Kota Pangkalpinang periode 2024–2029 dari PDI Perjuangan.

Ia kemudian maju dalam Pilkada Ulang Pangkalpinang 2025 mendampingi Prof. Saparudin dan berhasil memenangkan kontestasi tersebut.

 

Namun rekam jejak Cece Dessy tidak berhenti pada catatan politik formal. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan pengabdian publik. Mertuanya, Sofyan Rebuin, pernah menjabat Wali Kota Pangkalpinang, sementara suaminya Muhammad Irwansyah juga pernah memimpin kota tersebut periode 2013–2018.

Pengalaman itulah yang secara tidak langsung membentuk pemahamannya tentang pelayanan publik dan pentingnya hadir di tengah masyarakat.

Meski berasal dari lingkungan politik yang kuat, Cece Dessy tidak memilih tampil dengan gaya elitis. Justru yang terlihat adalah karakter sederhana, tenang, dan lebih banyak mendengar dibanding berbicara.

Dalam berbagai kegiatan pemerintahan maupun sosial, ia kerap turun langsung ke lapangan, berdialog dengan warga, mendengar keluhan masyarakat, hingga ikut hadir dalam kegiatan gotong royong dan pelayanan sosial.

Sebagai Wakil Walikota, di sinilah letak pembeda seorang Cece Dessy. Ia tidak memosisikan diri sekadar sebagai pejabat yang memberi instruksi dari balik meja birokrasi. Ia hadir sebagai pendamping masyarakat. Pemimpin yang mau mendengar sebelum mengambil keputusan. Pemimpin yang memahami bahwa jabatan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi tentang rasa hadir bagi rakyat kecil.

Dalam kultur politik yang sering keras dan penuh rivalitas, pendekatan Cece Dessy justru menghadirkan nuansa berbeda.

Politik baginya tidak harus gaduh. Politik bisa dijalankan dengan ketulusan, kesederhanaan, dan empati. Bahkan dalam salah satu pemberitaan, ia digambarkan sebagai sosok yang menawarkan politik yang tenang dan dekat dengan keseharian masyarakat.

Sebagai perempuan pemimpin, Cece Dessy juga membawa pesan penting bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar pelengkap dalam demokrasi.

Kehadirannya menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat dengan pendekatan yang lebih humanis.

Ketika banyak pemimpin sibuk membangun citra, Cece Dessy justru membangun kedekatan.
Ketika sebagian pejabat memilih menjaga jarak, ia memilih turun langsung. Dan ketika politik sering melahirkan sekat, ia mencoba menghadirkan rasa kebersamaan.

Mungkin karena itulah masyarakat mulai melihatnya bukan hanya sebagai Wakil Wali Kota, tetapi sebagai sosok perempuan yang mau berjalan bersama rakyatnya.

Sebab pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukan hanya tentang siapa yang berada di depan. Tetapi siapa yang tetap mau berjalan di samping masyarakatnya. Dan Cece Dessy sedang menunjukkan itu. (Jendela Group)

jb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *