Anggaran Dipangkas Rp800 Juta, Tiket Pesawat Kafilah Sampai Ngutang
PANGKALPINANG,JENDELABABEL.COM – Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) periode 2026–2030, H. Syamsuni Soleh, S.Q., akhirnya angkat bicara terkait anjloknya prestasi Kafilah Babel pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.
Syamsuni menyebut, pembinaan peserta yang berlaga pada MTQ Nasional 2026 masih merupakan hasil pembinaan kepengurusan LPTQ sebelumnya.
Selain faktor pembinaan, keterbatasan anggaran juga disebut menjadi kendala dalam mempersiapkan kafilah Babel menghadapi kompetisi tingkat nasional tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Syamsuni merespons sorotan terhadap merosotnya prestasi Kafilah Babel, yang sebelumnya diberitakan terkait anjloknya peringkat Kafilah Babel.
Dalam keterangannya, Syamsuni menjelaskan bahwa kepengurusan LPTQ Babel saat ini masih tergolong baru. Sementara itu, anggaran pembinaan dan pelaksanaan MTQ berada di LPTQ.
“Karena kami masih baru di sini, jadi semua untuk prestasi karena anggarannya ada di LPTQ, maka semua tanggung jawab pembinaan lama akan ada di LPTQ. Juga anggaran yang minim,” demikian pernyataan Syamsuni, Sabtu (26/9/2026).
Ia menegaskan, ke depan pihaknya akan melakukan pembinaan secara maksimal untuk mempersiapkan kafilah Babel menghadapi MTQ berikutnya.
Syamsuni juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya para pencinta Al-Quran yang selama ini mengikuti perkembangan prestasi kafilah Babel di ajang nasional.
“Kedepan akan kami bina secara maksimal dan kami mohon maaf kepada pencinta Al-Quran yang mengamati MTQ selama ini,” ungkapnya.
Menurut Syamsuni, hasil MTQ Nasional 2026 harus menjadi bahan evaluasi agar pembinaan peserta dan persiapan menghadapi kompetisi berikutnya dapat dilakukan secara lebih baik.
“Mudah-mudahan ke depan akan ada evaluasi secara menyeluruh*” lanjutnya.
Tiket Pesawat Kafilah Sampai Berutang
Persoalan anggaran, kata Syamsuni, tidak hanya berdampak pada durasi pembinaan, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar keberangkatan peserta.
Ia mengungkapkan, dana yang tersedia tidak cukup untuk membeli tiket pesawat seluruh kafilah. Pengurus akhirnya mencari pinjaman agar peserta tetap bisa berangkat ke Semarang.
Menurutnya, pengurus tidak ingin peserta kelelahan akibat persoalan transportasi maupun keterlambatan keberangkatan. Bahkan, untuk kebutuhan koper peserta, pengurus juga mengaku harus berutang.
Syamsuni menjelaskan, pihaknya masih menunggu pencairan anggaran belanja tambahan (ABT) sekitar Rp200 juta yang diperkirakan baru cair pada November atau Desember 2026. Sementara itu, peserta MTQ Nasional harus sudah berangkat pada September.
“Uang kami berangkat ke nasional tidak cukup beli tiket. Kami ngutang, minjam dulu dengan teman biar peserta tidak capek, tidak letih,” kata Syamsuni.
Ia menambahkan, pengurus juga harus mencari pinjaman untuk membeli koper peserta.
“Jadi kami pengurus walaupun dana kurang, tapi perhatian kami kepada peserta tidak kurang. Kami bela walaupun ngutang, terutama tiket pesawat,” tuturnya.
Babel Bukan Satu-satunya Daerah yang Mengalami Penurunan
Syamsuni juga menyampaikan bahwa penurunan prestasi pada MTQ Nasional 2026 tidak hanya dialami Babel. Menurutnya, terdapat daerah lain yang mengalami penurunan prestasi, bahkan ada daerah yang tidak dapat mengikuti kompetisi karena keterbatasan anggaran.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa hasil yang diraih Babel harus menjadi bahan evaluasi bersama.
Prestasi Babel Terjun ke Peringkat 28–30
Sebelumnya, prestasi Kafilah Babel menjadi sorotan setelah kontingen daerah ini dilaporkan berada di peringkat 28 hingga 30 dari 38 provinsi pada MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang.
Dalam kompetisi yang berlangsung pada 13–19 September 2026 tersebut, Babel mengirimkan 16 peserta. Kontingen hanya membawa pulang penghargaan Harapan II dan Harapan III dari cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Quran (KTIQ).
Capaian tersebut berbeda dengan prestasi Babel pada periode 2020–2025, ketika kafilah daerah ini tercatat berada di peringkat 9 hingga 15 nasional.
Pengurus LPTQ Babel periode 2026–2030 sendiri telah resmi dilantik pada 9 Juni 2026.
Anggaran MTQ Dipangkas Rp800 Juta

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Provinsi Babel, M. Yasir Mustafa, menjelaskan anggaran LPTQ yang sebelumnya hampir Rp2 miliar kini hanya sekitar Rp1,2 miliar. Atau terdapat pengurangan anggaran sekitar Rp800 juta, dibandingkan periode sebelumnya.
“Pada periode sebelumnya, anggaran LPTQ Rp2 miliar, sekarang Rp1,2 miliar. Biasanya persiapannya satu minggu, ini sekarang cuma dua hari. Bahkan tidak mendatangkan mentor dari luar seperti sebelumnya,” ujar Yasir.
Meski demikian, Yasir menegaskan keterbatasan anggaran tidak menghilangkan upaya pengurus untuk tetap membawa peserta Babel berkompetisi di tingkat nasional.
Jangan Sombong Mengejar Juara MTQ
Di tengah sorotan terhadap prestasi kafilah, Yasir mengingatkan bahwa MTQ tidak semata-mata menjadi ajang mengejar gelar juara.
“Jangan sombong, jangan takabur karena ingin dapat juara. Bacalah Al-Quran karena Allah. Kalau belum dapat juara di dunia, kita sudah pasti dapat juara di akhirat,” ujarnya.
Yasir mengatakan, nilai utama MTQ adalah bagaimana ajaran Al-Quran benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Penulis: [Jendela Group]
jb

jb
jb











