Scroll untuk baca artikel
jb
jb jb jb jb
BANGKA BELITUNGPEMPROV BABEL

Suri Tauladan! Gubernur Hidayat Arsani Hentikan Pidato Saat Kumandang Azan

101
×

Suri Tauladan! Gubernur Hidayat Arsani Hentikan Pidato Saat Kumandang Azan

Sebarkan artikel ini

JENDELABABEL.COM, ANGKALPINANG – Sikap sederhana namun penuh makna ditunjukkan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Hidayat Arsani. Saat sedang berpidato, beliau langsung berhenti sejenak ketika mendengar kumandang azan waktu ashar.

Tindakan tersebut terjadi saat Gubernur Hidayat Arsani berpidato sebelum melakukan peletakan batu pertama pembangunan SMA 5 Negeri Pangkalpinang. Sikap ini dinilai salah satu contoh suri tauladan seorang pemimpin yang mengajarkan ketaatan kepada agama dan penghormatan terhadap syiar Islam.”

 

Suara Panggilan Sang Maha Besar

Hal senada diakui Ustaz M. Yasir Mustafa. Ia menilai apa yang dilakukan Gubernur Hidayat merupakan cerminan adab seorang Muslim.

“Memang suara azan itu suara panggilan Sang Maha Besar. Seharusnya ketika dengar azan kita harus diam dan mengucapkan kalimat yang diucapkan seorang muazin. Pak Gubernur paham dan sangat menghormati suara azan ini. Jarang-jarang ada pejabat pemimpin yang taat kepada agama dan kebesaran Sang Pencipta. Semoga beliau diberi kekuatan dan kesehatan dalam membangun Babel yang _baldatun toyibatun warobbun ghofur_,” ujar Ustaz Yasir.

BERITA TERKAIT. 

https://jendelababel.com/resmi-pemprov-babel-bangun-sman-5-pangkalpinang-anggaran-rp67-miliar-target-selesai-november/

Adab Menjawab Azan dalam Islam
Senada, Ustaz Ghozali selaku Kepala Pondok Pesantren juga menjelaskan ada anjuran atau adab dalam Islam untuk berhenti sejenak dari aktivitas berbicara atau acara agar bisa mendengarkan dan menjawab suara azan.

“Dasar utamanya adalah sabda Rasulullah SAW: `Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muazin.` HR. Bukhari dan Muslim,” jelas Ustaz Ghozali.

Menurutnya, para ulama menganjurkan agar tidak berbicara dan menyimak azan agar lisan fokus melafalkan jawaban azan. Seperti mengucapkan `Laa haula wa laa quwwata illaa billaah` saat muazin membaca `Hayya ‘alash-shalah`, dan membaca doa setelah azan.

Para ulama mazhab Syafi’i, Maliki, dan lainnya juga memakruhkan berbicara yang tidak perlu saat azan berkumandang. Menghentikan ceramah, pidato, atau obrolan sejenak adalah bentuk penghormatan atau _ta’dzim_ terhadap syiar Islam.

“Dalam forum belajar-mengajar atau acara resmi, menghentikan aktivitas sejenak saat azan lebih diutamakan. Menjawab azan adalah ibadah yang waktunya terbatas, sedangkan berbicara bisa dilanjutkan setelah azan selesai,” pungkasnya.

_Penulis: [Jendea Group]_
_Editor: Jendela Group_

#SuriTauladan #HidayatArsani #BabelBerkah #AdabAzan`

jb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!