Scroll untuk baca artikel
jb
jb jb jb jb
BANGKA BELITUNG

Jangan Paksakan Seragam, Atur Ulang Prioritas” Tanggapan Mahasiswa Atas 3 Program Besar

104
×

Jangan Paksakan Seragam, Atur Ulang Prioritas” Tanggapan Mahasiswa Atas 3 Program Besar

Sebarkan artikel ini

JENDELABABEL.COM. PANGKALPINANG  – Pemerintah meluncurkan tiga program besar: Makan Bergizi Gratis/MBG, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat. Tujuannya didukung, namun penyamarataan pelaksanaannya di seluruh Indonesia dinilai mahasiswa berisiko membuang anggaran dan tak menyentuh akar masalah.

Suara kritis disampaikan aktivis mahasiswa Kepulauan Bangka Belitung, Ahmad Sidik, Jumat (3/7/2026). Ia meminta kebijakan dijalankan sesuai kebutuhan, bukan proyek seremonial.J

jangan Diberhentikan, Tapi Perbaiki Arahnya

Ahmad menegaskan tidak menolak program, namun menolak pola `satu ukuran untuk semua`.

BACA JUGA. 

“Kita tidak sedang menolak kebaikan, kita menginginkan kebijakan yang masuk akal. Niatnya mulia, tapi memaksakan satu ukuran untuk seluruh negeri yang beragam ini adalah bentuk kelalaian pemikiran,” ujarnya.

“Saya katakan tegas: Jangan diberhentikan, tapi perbaiki arahnya! Jangan disamaratakan, tapi bedakan prioritasnya!”

Soal MBG: Fokus ke Daerah Rawan Gizi Buruk
Menurutnya, MBG tak perlu ada di setiap kabupaten saat ini. Anggaran terbatas akan habis terbagi tipis jika disebar rata.

“Program Makan Bergizi Gratis tidak harus ada di setiap kabupaten saat ini. Fokuskan saja dulu di daerah yang gizi buruknya tinggi, di wilayah yang kemiskinannya nyata. Kalau disebar rata, hasilnya tidak terasa di mana pun,” katanya.

*Soal Koperasi Merah Putih: Mitra Resmi, Awasi Ketat*
Ahmad meminta Koperasi Merah Putih dijadikan mitra resmi pemerintah, bukan sekadar nama baru. Pengawasan negara harus kuat agar tak jadi ladang kebocoran.

BACA LAGI.

“Biarkan mereka menyuplai kebutuhan, tapi pengawasan harus dicengkeram kuat oleh negara,” tegasnya.

Soal Sekolah Rakyat: Perbaiki yang Ada Dulu
Ia menyorot ribuan sekolah yang kondisinya rusak, minim buku, dan guru belum terlatih. Membangun sekolah baru dinilai kurang tepat.

“Mengapa kita sibuk membangun bangunan baru? Memperbaiki yang sudah ada jauh lebih bijak daripada menambah gedung kosong yang tak berisi kualitas,” ujarnya.

“Negara tidak dibangun dengan kecepatan membagi janji, tapi dengan ketelitian membagi kebutuhan. Jangan biarkan kebijakan ini hanya menjadi catatan indah di atas kertas, tapi nyata manfaatnya bagi rakyat,” tutup Ahmad.

Penulis:  Ahmad
Editor: Jendela Group.

jb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!