JENDELABABEL.COM, PANGKALPINANG -– Sekitar 80 pedagang kaki lima di kawasan Jembatan Emas, Pangkalpinang, masih kesulitan mendapatkan gas LPG 3 KG bersubsidi dengan harga eceran tertinggi. Kondisi ini membuat biaya operasional usaha mereka membengkak.
Koordinator Pedagang Kaki Lima (PKL) di seputaran Jembatan Emas, Sudar menyebut para pedagang sering harus membeli gas non-subsidi atau eceran dengan harga jauh di atas HET karena pasokan gas 3 KG di pangkalan sekitar terbatas dan antreannya panjang.
“Kami jualan sate, gorengan, sama mie. Kalau gas mahal, otomatis harga jual naik. Pembeli jadi mikir-mikir,” ujar Sudar, Senin (22/6/2026).
Ketua Asosiasi Perdagang Kaki Lima (APKLI) Kota Pangkalpinang, Februli membenarkan keluhan anggotanya. Ia meminta Pertamina menambah jumlah pangkalan resmi serta memperketat pengawasan agar gas 3 KG tepat sasaran dan Pemkot Pangkalpinang lebih serius menyikapi hal ini.
“Kami sudah sampaikan ke Dinas Koperasi dan UKM. PKL ini tulang punggung ekonomi mikro. Kalau gas susah, usaha mereka terganggu,” kata Februli.

Menanggapi hal ini, Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Babel, Didit Rizaldi, mengatakan pihaknya akan mengecek ulang data pangkalan dan titik kebutuhan di sekitar Jembatan Emas.
“Kami komitmen gas 3 KG subsidi sampai ke masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro. Nanti tim kami turun untuk verifikasi dan menambah alokasi jika memang dibutuhkan,” jelas Didit.
Menindaklajuti keluhan PKL , Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Babel, Mangimpal LT berharap ada pangkalan khusus PKL di sentral-sentral pusat PKL atau jadwal distribusi khusus agar para pedagang tidak harus antre berjam-jam dan bisa fokus berjualan. (Jendela Group)
jb

jb
jb
jb
jb











