Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7
BANGKA BELITUNGPANGKALPINANG

Jaga Babel Tetap Kondusif, Warga dan Ormas Kompak Tolak Seruan Demo Batara

117
×

Jaga Babel Tetap Kondusif, Warga dan Ormas Kompak Tolak Seruan Demo Batara

Sebarkan artikel ini

JENDELABABEL.COM, PANGKALPINANG — Gelombang penolakan terhadap rencana aksi demonstrasi yang menyerukan pengepungan kantor dan rumah dinas Gubernur Bangka Belitung pada 30 Desember kian menguat.

Di Kota Pangkalpinang, warga bersama berbagai elemen masyarakat sepakat satu suara: Pangkalpinang tidak boleh diseret ke jurang anarkisme, apalagi di penghujung tahun.

Penolakan ini mencuat setelah sejumlah insiden yang melibatkan kelompok Batara Cs dinilai melenceng dari semangat penyampaian aspirasi dan justru menimbulkan keresahan publik.

Tokoh masyarakat, ormas, komunitas pemuda hingga tokoh agama menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk aksi yang berpotensi berujung pada perusakan dan kekerasan.

Sorotan publik menguat ketika sikap tersebut ditegaskan oleh Deki Kurniawan, figur yang dikenal aktif di dunia keormasan dan kejurnalistikan.

Ia menilai Pangkalpinang harus steril dari praktik anarkisme yang hanya menyisakan ketakutan, bukan solusi.

Sikap itu disampaikan dalam pertemuan Aliansi Masyarakat Babel Cinta Damai yang digelar di Markas Besar Ormas Barisan Muda Patriot Bangka Belitung, Minggu malam (28/12/2025). Sejumlah tokoh lintas elemen yang hadir secara bulat menyatakan penolakan terhadap rencana aksi demo Batara Cs.

“Atas nama warga Babel, khususnya Pangkalpinang, kami sepakat: anarkisme dan demo anarkis tidak punya tempat di kota ini,” tegas Deki Kurniawan.

Tak hanya itu, Deki juga menyatakan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum dalam menjaga stabilitas keamanan daerah.

“Kami mendukung TNI–Polri untuk bertindak tegas, profesional, dan terukur. Ormas, komunitas, dan masyarakat siap menyatukan barisan demi menjaga Babel tetap kondusif,” ujarnya.

Menurut Deki, pola aksi yang dilakukan kelompok Batara Cs pada demonstrasi sebelumnya justru menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat. Aktivitas warga terganggu, pelaku usaha resah, dan ruang publik berubah menjadi arena ketegangan.

“Ada sekelompok orang berkumpul dengan kegiatan yang tidak jelas arah dan tujuannya. Di situlah keresahan masyarakat muncul,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Aliansi Masyarakat Babel Cinta Damai juga merumuskan empat pernyataan sikap. Pertama, menolak keras segala bentuk kekerasan dan anarkisme terhadap orang maupun fasilitas umum dalam situasi apa pun.

Kedua, siap menjaga wilayah masing-masing dari potensi gangguan, tanpa melakukan tindakan main hakim sendiri.

Ketiga, mengutuk segala aksi anarkistis yang mengganggu aktivitas ekonomi, memperburuk kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan rasa takut di ruang publik.

Keempat, mendukung penuh langkah TNI–Polri untuk bertindak tegas dan profesional terhadap massa yang berpotensi merusak ketertiban umum.

Deki menambahkan, diskusi lintas elemen ini digelar sebagai respons atas situasi akhir tahun yang dinilai mulai terasa tidak kondusif, terutama bagi pelaku usaha dan para pekerja di Pangkalpinang.

“Karena itu, pertemuan malam ini—yang kami iringi dengan doa bersama—adalah bentuk komitmen kolektif untuk memastikan Pangkalpinang tetap aman, nyaman, dan damai. Babel butuh ketenangan, bukan kegaduhan,” pungkasnya.

Di penghujung tahun, pesan itu terdengar sederhana namun penting: aspirasi boleh disuarakan, tetapi anarkisme bukan bahasa masyarakat Bangka Belitung.(Redaksi/JB 007 Babel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *