JENDELABABEL.COM, PANGKALPINANG — Freming bingkaian pemberitaan terkait dugaan peredaran minuman beralkohol (mihol) di Havana Zodiac Cafe selama bulan Ramadhan setelah dua artikel beredar luas di media daring, pihak pengurus akhirnya angkat bicara dan menyampaikan klarifikasi resmi.
Fery, selaku owner Havana Zodiac Cafe, membantah keras tudingan yang menyebut tempat usahanya menjual bir merek tertentu secara terang-terangan. Ia menilai pemberitaan tersebut sarat opini dan menggunakan frasa.
“dugaan” tanpa pernah melakukan konfirmasi langsung kepada manajemen.
“Itu karangan dan hoaks. Tidak ada satu pun media yang datang atau menghubungi kami untuk klarifikasi sebelum berita itu tayang,” ujar Fery saat dikonfirmasi tim Media Jendela Group.
Menurutnya, penggunaan istilah “dugaan” dalam pemberitaan tidak serta-merta membenarkan isi tuduhan. Dalam praktik jurnalistik yang sehat, kata itu bukan tameng untuk menghindari verifikasi. Ia menegaskan, manajemen selalu terbuka apabila ada pihak yang ingin meminta keterangan atau melakukan pengecekan langsung.
Lebih lanjut, Fery menyatakan bahwa selama bulan Ramadhan, pihaknya menghormati norma dan aturan yang berlaku di Kota Pangkalpinang. Ia juga mempersilakan aparat penegak hukum maupun instansi terkait untuk melakukan pemeriksaan apabila diperlukan.
“Kami siap diperiksa kapan saja. Jangan sampai opini berkembang liar dan merugikan usaha kami,” tegasnya.
Polemik ini mencuat setelah beredarnya dua artikel yang mengaitkan Havana Zodiac Cafe dengan dugaan distribusi minuman beralkohol dari luar daerah. Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait adanya pelanggaran sebagaimana dituduhkan.
Di tengah arus informasi yang deras, publik diingatkan untuk tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan tidak menelan mentah-mentah setiap narasi yang beredar. Sebab dalam dunia informasi digital, satu kata bisa menjadi bara, dan satu asumsi bisa menjelma vonis sosial.
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa akurasi dan verifikasi tetaplah jantung jurnalisme. Tanpa itu, berita bisa berubah menjadi sekadar gema yang berulang tanpa arah. (Redaksi/Jendela Graup)












