Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7
BANGKABANGKA BELITUNG

Blunder Etika Digital: Polres Bangka Angkat Sosok Bermasalah Jadi “Wajah Icon Institusi” di Instagram Resmi

524
×

Blunder Etika Digital: Polres Bangka Angkat Sosok Bermasalah Jadi “Wajah Icon Institusi” di Instagram Resmi

Sebarkan artikel ini
Foto Screncood akun resmi Himas Polres Bangka. Postingan Selasa, (23/12/3025)

JENDELABABEL.COM, BANGKA — Keputusan akun Instagram resmi Polres Bangka( (https://www.instagram.com/reel/DSlzgy8j6_R/?igsh=bXgzZHdibDJpM2h5), @humas_polresbangka menampilkan sosok bernama Barata sebagai figur yang seolah diposisikan layaknya duta atau “ambassador” Kapolres Bangka menuai kritik keras dari masyarakat.

Langkah tersebut dinilai tidak hanya ceroboh, tetapi juga mencederai rasa keadilan publik dan etika institusi penegak hukum.

Kritik itu menguat setelah beredar unggahan video di akun resmi humas Polres Bangka yang menampilkan Barata secara menonjol.

Sejumlah warga dan pemerhati hukum mempertanyakan dasar pemilihan figur tersebut, mengingat Batata diketahui merupakan mantan narapidana dan saat ini disebut-sebut masih tersandung berkaitan dengan proses hukum.

Mirisnya, sosok yang di anggap duta atau “ambassador” oleh Kapolres Bangka saat ini sedang menjalani pemeriksaan Selasa, (23/12/2025) di di Polda Babel atas laporan karyawan BFI Finance dalam kasus dugaan penggelapan sebuah mobil Toyota All News Camry V 2.4 A/T Tahun 2008 warna hitam.

Foto Batara dalam ruangan pemeriksaan terkait kasus Fidusia Mobil Toyota All news Camry.

“Menurut saya, ini sangat tidak pantas. Akun resmi Polres Bangka seharusnya menjadi etalase moral dan profesionalisme institusi, bukan ruang promosi figur yang memiliki rekam jejak hukum bermasalah,” ujar salah satu pelapor kepada media, Selasa (23/12).

Baca.

Ia menegaskan, persoalan ini bukan soal suka atau tidak suka pada individu, melainkan soal sensitivitas dan kecermatan institusi negara dalam menjaga marwahnya di ruang publik.

Media sosial Polri, kata dia, bukan akun pribadi yang bisa dikelola dengan logika popularitas semata.

“Polres Bangka sedang mengirim pesan yang keliru ke publik. Ketika sosok dengan latar belakang hukum yang dipertanyakan diberi panggung seolah mewakili institusi, maka kepercayaan publik dipertaruhkan,” lanjutnya.

Sejumlah kalangan menilai, langkah ini menunjukkan lemahnya filter etik dalam pengelolaan media sosial institusi kepolisian.

Alih-alih memperkuat citra profesional dan humanis, unggahan tersebut justru memantik pertanyaan serius: siapa yang mengkurasi, dan atas dasar apa?
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Polres Bangka terkait tujuan penampilan Barata dalam konten tersebut maupun klarifikasi mengenai status hukum yang bersangkutan.

Publik kini menunggu, apakah Polres Bangka akan menjawab kritik ini dengan klarifikasi terbuka—atau memilih diam, yang justru berisiko memperdalam krisis kepercayaan. Dalam era digital, satu unggahan bisa membangun citra bertahun-tahun, atau meruntuhkannya dalam hitungan detik.

Sementara, hingga berita ini terpublis, awak media masih berupaya meminta tanggapan Humas Polres Bangka. (Redaksi/JB 007 Babel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *